Posts Tagged ‘mushaf’

AL-QUR’AN ADALAH SEBUAH KITAB/BUKU

Sunday, August 7th, 2011

AL-QUR’AN ADALAH SEBUAH KITAB/BUKU

(Bagian dari buku “Al-Qur’an: Kitab Multimedia”)

Oleh: Andri Abdurrochman

Setiap agama-agama pasti memiliki tatacara dan aturan berkaitan dengan agamanya, baik peribadatan maupun moral. Dan tatacara serta aturan itu dituliskan di dalam sebuah buku yang kemudian disebut Kitab Suci agama tersebut. Kitab-kitab suci tersebut dipercaya oleh para penganutnya sebagai wahyu-wahyu Tuhan yang diturunkan kepada para pemimpin agama mereka ataupun kepada para nabi utusan Tuhan.

Demikian pula di dalam agama kita, agama Islam, kita beriman kepada al-Qur’an sebagai wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad s.a.w. Bahkan, sebagai Muslim kita wajib mengimani semua wahyu yang telah diterima oleh para Nabi terdahulu seperti Zabur, Taurat dan Injil. Seperti disebutkan dalam QS. al-Maa’idah 5:68.

قل يا أهل الكتاب لستم على شيء حتى تقيموا التوراة والإنجيل وما أنزل إليكم من ربكم وليزيدن كثيرا منهم ما أنزل إليك من ربك طغيانا وكفرا فلا تأس على القوم الكافرين

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipan-dang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.” (QS. al-Maa’idah 5:68)

Dan wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. pun adalah sebuah Kitab atau Buku.

نزل عليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه وأنزل التوراة والإنجيل

Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali Imran 3:3).

Kitab atau Buku ini telah ditulis langsung oleh Allah, seperti yang dikatakan-Nya tentang Zabur di dalam QS. al-Anbiyaa’ 21:105. Juga di QS. ath-Thur 52:2 dan QS. al-Muthaffifiin 83:9 serta 83:20.

ولقد كتبنا في الزبور من بعد الذكر أن الأرض يرثها عبادي الصالحون

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam Lohmahfuz), bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. 21:105)

dan Kitab yang ditulis” (QS. 52:2)                                                                                                                                       وكتاب مسطور

(Ialah) kitab yang bertulis.” (QS. 83:9)                                                                                                                                 كتاب مرقوم

(Yaitu) kitab yang bertulis.” (QS. 83:20)

Sehingga Allah pun melaknat orang – orang yang menuliskan sendiri wahyu-wahyu itu dengan caranya sendiri di dalam QS. al-Baqarah 2:79.

فويل للذين يكتبون الكتاب بأيديهم ثم يقولون هذا من عند الله ليشتروا به ثمنا قليلا فويل لهم مما كتبت أيديهم وويل لهم مما يكسبون

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. 2:79)

Lebih jauh lagi, kata “al-kitaab” (الكتاب atau الكتٰب) disebutkan di dalam 162 ayat, sebagai penekanan bahwa wahyu-wahyu Allah yang disampaikan kepada para Nabi tersebut memang berupa buku. Selain itu ada penjelasan lain tentang wahyu yang berupa lembaran-lembaran, seperti dalam firman-Nya dalam QS. al-Bayyinah 98:2, QS. an-Najm 53:36 dan QS. al-A’laa 87:18-19

رسول من الله يتلو صحفا مطهرة

Seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran – lembaran yang disucikan” (QS. 98:2)

أم لم ينبأ بما في صحف موسى

Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa?” (QS. 53:36)

إن هذا لفي الصحف الأولى صحف إبراهيم وموسى

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam lembaran-lembaran yang dahulu, (yaitu) lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa” (QS. 87:18-19)

Empat ayat di atas semakin memperkuat, bahwa wahyu-wahyu Allah ini benar-benar sebuah buku yang terdiri dari lembaran-lembaran. Bahkan Taurat-nya Nabi Musa digambarkan sebagai 10 lembar batu berisi “10 Perintah Tuhan” atau THE TEN COMMANDEMENTS.

Seperti kita pahami, setiap buku yang beredar memiliki format penulisan tertentu yang berbeda dengan buku-buku lainnya. Bahkan, seandainya sebuah judul buku dicetak ulang, terkadang format tulisannyapun berbeda dari cetakan sebelumnya. Karena itulah, biasanya, setiap buku mempunyai format penulisan yang khas. Lantas, bagaimana dengan Kitab-kitab yang ditulis oleh Allah seperti yang sudah disebutkan-Nya dalam ayat-ayat yang sudah kita bahas di atas. Apakah memiliki format penulisan khusus?

Selanjutnya, bagaimana dengan al-Qur’an? Apakah al-Qur’an pun memiliki format khusus tertentu? Pada bagian pertama buku ini kami telah mengungkapkan 10 karakter khusus mushaf Utsmani (Aman dkk, 2008) yang dipercaya merupakan sebagian dari ciri-ciri khusus format  Kitab al-Qur’an. Selain jumlah halaman (485) dan jumlah baris per halaman (18), terdapat pula notasi-notasi penanda seperti tanda awal juz, tanda ruku menggunakan huruf ‘ain (ﻉ) – dengan angka-angka di atas, di dalam dan di bawah huruf ﻉ – dan tanda-tanda horison (baris) atas, tengah dan bawah.

Banyak orang-orang yang menafsirkan QS. al-Muthafifin ayat 9 dan 20 sebagai format khusus al-Qur’an. Rashad Khalifa mengartikan “kitabum marquum” sebagai “A numerically structured book” atau sebuah kitab yang memiliki struktur secara numerik. Sementara itu, Muhammad Asad, seorang cendikiawan muslim yang menjadi Duta Besar Pakistan pertama di PBB, mengartikan “kitabum marquum” sebagai “A record [indelibly] inscribed” atau sebuah coretan catatan (buku) yang tidak terhapuskan. Sedangkan seorang professor di Jurusan Sastra Arab Universitas Padjadjaran yang sempat kami temui, Prof. DR. Syarif  Hidayat, menjelaskan makna “kitabum marquum” sebagai sebuah kitab yang berisi surat-surat dengan susunan atau urutan tertentu yang bersifat tetap dengan ayat-ayat yang juga tersusun dengan urutan tertentu yang bersifat tetap.

Lalu, bagaimanakah cetakan al-Qur’an yang ada sekarang? Apakah mereka memiliki format cetakan yang sama satu sama lainnya?

Ternyata, kita dapat melihat bahwa kitab-kitab al-Qur’an yang beredar dewasa ini memiliki cetakan format yang berbeda-beda, walaupun disertifikasi oleh lembaga yang sama. Sebagai langkah tabayyun, Anda ambil dua kitab al-Qur’an yang dicetak oleh dua penerbit yang berbeda yang sudah mendapat sertifikasi dari Departemen Agama Indonesia. Bandingkanlah kedua kitab al-Qur’an tersebut, apakah benar-benar sama format penulisannya? Apakah ada kesesuaian dengan 10 karakter khusus mushaf Utsmani (Aman dkk, 2008)?

Selain itu, ternyata format kitab-kitab al-Qur’an yang mendapat sertifikasi DEPAG RI itu tidak sama dengan kitab-kitab yang dikeluarkan oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Sehinga, mungkin Anda berfikir kitab-kitab al-Qur’an yang dikeluarkan dan mendapat sertifikasi pemerintah Kerajaan Arab Saudi adalah kitab yang standar. Untuk mengujinya, ambilah 2 buah kitab al-Qur’an yang dibagikan pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Pilihlah 2 buah kitab yang memiliki sampul (jilid) yang berbeda, kemudian bandingkanlah keduanya. Lihatlah, apakah format penulisan keduanya benar-benar sama? Kalau ternyata Anda akan menemukan format penulisan yang berbeda, yang manakah yang standar? padahal keduanya dikeluarkan dan mendapat sertifikasi dari institusi atau lembaga yang sama, pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Kami telah membuat beberapa video dokumentasi mengenai format masing-masing kitab al-Qur’an tersebut. Salah satunya, yang menerangkan mengenai ciri al-Qur’an mushaf utsmani, dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=HVIWR5QtGWc.

Berdasarkan paparan singkat di atas, yakinlah bahwa Allah tidak saja menjaga pesan tekstual al-Qur’an tapi juga format dan notasi-notasi di dalamnya.  Seperti yang disebutkan-Nya dalam QS. al-Hijr 15:9.

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. 15:9)

Wallahu ’alam.

²°FlÛ¯

Al-Qur’an diturunkan berbentuk “Kitab”

Sunday, February 27th, 2011
TEMUAN AL-QUR’AN DAN PEDANG RAKSASA DI LEBAK, BANTEN
Akhir tahun 2009 lalu, warga Lebang – Banten yang sedang bergotong royong memperbaiki sebuah Masjid, dikejutkan dengan ditemukannya sebuah mushaf al-Qur’an berukuran raksasa (2,5 m x 1,38m) dan sebuah pedang yang juga berukuran besar (1,7 m) di halaman Masjid tersebut. Mereka tidak tahu darimana datangnya dua benda yang berukuran raksasa tersebut.

http://www.youtube.com/watch?v=taSLuCKTOhk

Selanjutnya banyak polemik antar masyarakat tentang isi al-Qur’an tersebut. Tapi, katanya, ulama setempat sudah memeriksa dan memastikan bahwa al-Qur’an raksasa tulisan tangan tersebut isinya sesuai dengan al-Qur’an yang sekarang beredar. Lalu bagaimana dengan format penulisannya? Apakah sesuai dengan mushaf Utsmani?

Mudah-mudahan ini dapat dijadika sebagai penjelasan bahwa, al-Qur’an memang telah Allah ciptakan berupa Kitab yang terdiri dari lembaran-lembaran, atau buku.

Wallahu ‘alam.

Ciri-ciri Mushaf Utsmani

Sunday, February 27th, 2011
10 karakter khusus mushaf Utsmani (Aman dkk, 2008), yaitu:
1. Terdiri dari 485 halaman, dimulai dari halaman 2. Halaman 1 adalah halaman judul.
2. Setiap halaman terdiri dari 18 baris, kecuali halaman 2,3 dan 485. Halaman 2 dan 3 masing-masing berisi 6 baris. Halaman 485 berisi 15 baris ditambah ruang “kosong” yang setara dengan 3 baris.
3. Halaman 2 dan 3 tercetak secara khas berbeda dari halaman-halaman lain. Halaman 2 berisi seluruh ayat QS. 1 (al-Fatihah). Halaman 3 berisi QS. 2 (al-Baqarah) 1 – 4.
4. Setiap ayat selesai ditulis di dalam sebuah halaman, kecuali ayat ke-4 dari QS. 111 (al-Lahab) yang ditulis berawal di halaman 484 dan berakhir di halaman 485.
5. Ada 2 halaman yang masing-masing penuh diisi surat, yaitu halaman 2 berisi seluruh ayat QS. 1 (al-Fatihah) dan halaman 475 berisi seluruh ayat QS. 89 (al-Fajr).
6. 6 buah surat di dalam juz 30 ditempatkan secara khas dengan tepat sejajar di halaman 482 (QS. 102, 103, 104) dan halaman 483 (QS. 105, 106, 107).
7. Muqadimah surat menempati 2 baris, kecuali 3 surat (menempati 1 baris) yaitu QS. 9 (at-Taubah), 15 (al-Hijr) dan 27 (an-Naml).
8. Setiap juz terdiri dari 16 halaman, kecuali juz 1 (15 halaman) dan juz 30 ( 21 halaman.
9. Awal juz ditandai oleh huruf-huruf bercetak tebal.
10. Tanda ruku’ berupa huruf ‘ain dicantumkan angka-angka yang menunjukkan tentang urutan ruku’ di dalam surat (atas), juz (bawah) dan jumlah ayat yang terkandung di dalam batasan ruku’ (tengah).

Untuk lebih lengkap mengenai ciri-ciri mushaf Utsmani serta perbedaan format al-Qur’an yang ada di masyarakat dapat dilihat di:

  1. http://www.youtube.com/watch?v=HVIWR5QtGWc
  2. http://www.youtube.com/watch?v=fyJrmfHXDkE
  3. http://www.youtube.com/watch?v=01FZdLq1l4k
  4. http://www.youtube.com/watch?v=yFAkcsnYg0M

Wallahu ‘alam

Matematika al-Qur’an (Numerik)

Sunday, February 27th, 2011
Matematika al-Qur’an
Oleh A. Abdurrochman
Untuk kebanyakan pemeluk agama Islam, temuan-temuan yang berkaitan dengan ‘ijaz ‘adadi di atas sudah cukup meningkatkan keimanan dan keyakinan akan keberadaan al-Qur’an sebagai wahyu Allah. Sementara hanya sedikit yang berfikir dan penasaran,
“Apakah Allah memiliki maksud tertentu dengan angka-angka itu? Mengapakah kata-kata itu disimpan pada surat A dan ayat B? Mengapakah al-Qur’an disusun tidak secara kronologis seperti kitab Yahudi? Mengapa susunan nama surat dan ayat disusun-Nya seperti sekarang? Mengapakah al-Qur’an terdiri dari 114 surat, 30 juz dan 6236 ayat? Apakah ada pesan (wahyu) simbolik dibalik susunan itu? Apakah ….? Mengapa ……….?”.

“Kecurigaan” adanya pesan simbolik berupa angka-angka ini menjadi awal munculnya paradigma numerik al-Qur’an, disamping paradigma verbal yang sudah biasa dan umum dikenal. Walaupun sering digunakan, angka kurang disadari telah membentuk bahasa tersendiri, bahasa matematik. Selain itu bahasa ini pun kurang luas penggunaannya dalam berbagai aktifitas ilmiah, kecuali untuk sebagian saja, diantaranya matematika, fisika dan ekonomi. Walaupun demikian, tanpa diragukan lagi bahasa angka memiliki tingkat universalitas yang lebih tinggi daripada bahasa huruf (verbal).(Aman dkk, 2008). Sejalan dengan pemikiran itulah, lebih kurang, muncul istilah Matematika Islam yang dipopulerkan oleh KH. Fahmi Basya, seorang dosen UIN (IAIN Syarif Hidayatullah) Jakarta. Beliau mengungkapkan Bahasa Kode Al-Qur’an (Basya, 2008) atau pola numerik dan Anatomi Al-Qur’an (Basya, 2007) sejak 1972.

Selain mengungkap pola numerik baru, KH. Fahmi Basya juga membuktikan korelasi hasil perhitungan matematisnya dengan ayat-ayat al-Qur’an (secara verbal), hadits-hadits Nabi serta hasil-hasil penelitian atau pengamatan ilmiah. Satu metode baru dalam menafsirkan al-Qur’an. Satu hal yang tidak kalah penting, KH. Fahmi Basya dapat menjelaskan Anatomi Al-Qur’an. Beliau dapat menjelaskan alasan matematis mengenai susunan dan struktur al-Qur’an.

Hampir sejalan dengan KH. Fahmi Basya adalah Arifin Muftie dan Abdussyakir. Arifin Muftie lebih menekankan pada kodetifikasi bilangan prima di dalam al-Qur’an (Muftie, 2004). Beliau memperlihatkan munculnya bilangan prima selain angka 19. Menurutnya, bilangan prima ini dipercaya oleh sebagian besar ilmuwan sebagai bahasa universal dan berhubungan dengan desain kosmos atau kodetifikasi alam semesta.

Sementara itu, Abdussyakir mencoba menjelaskan dan memaparkannya adanya struktur matematika dengan sangat rinci dan teliti yang akhirnya mengarah pada kelipatan bilangan 19. Beliau memperkuat argumennya dengan memberikan penjelasan angka 19 yang ditinjau berdasarkan nilai numerik dan secara matematis. Selanjutnya, Beliau juga mencoba menjelaskan bahwa dari al-Qur’an dapat dikembangkan beberapa konsep (bukan semuanya) dasar matematika karena pada hakekatnya matematika itu terdapat dan dapat dikembangkan dengan bersumber dari al-Qur’an. Di antara konsep matematika yang dipaparkannya adalah tentang himpunan dan operasi himpunan, bilangan dan operasi bilangan, himpunan bilangan dan sistem bilangan, perbandingan, fungsi, dan persamaan garis serta estimasi. Terakhir, Abdussyakir memberikan gambaran nyata tentang bagaimana memahami al-Qur’an melalui matematika. Menurutnya ada hal-hal tertentu dalam kehidupan yang hanya dapat diselesaiakan melalui bantuan matematika. Contoh yang diangkat diantaranya penyelesaian perhitungan faraidh, lamanya Nabi Nuh tinggal dengan kaumnya, serta lamanya Ashhabul Kahfi tertidur dalam gua.

Wallahu ‘alam.

Ijaz ‘adadi (Mu’jizat Angka)

Sunday, February 27th, 2011

Ijaz ‘adadi (Mu’jizat Angka)

by Andri Abdurrochman on Wednesday, January 27, 2010 at 5:08pm
Pada 24 Januari 1973 sebuah majalah terbitan Mesir, Akher Sa’a, memuat publikasi pertama Rashad Khalifa tentang ditemukannya pola numerik di dalam teks al-Qur’an yang berkaitan dengan angka 19 seperti yang disebutkan pada QS. Al-Mudattsir 74:30. Analisa Rashad Khalifa, yang bernama asli Richard Khalif, berdasarkan frekuensi kemunculan huruf-huruf dan kata-kata di dalam al-Qur’an yang dimulai tahun 1968. Walaupun kemudian Rashad Khalifa dibunuh karena mendirikan agama/sekte baru (sempalan agama Islam) yang diberi nama submission (http://en.wikipedia.org/wiki/Rashad_Khalifa), publikasi ini mengawali publikasi-publikasi lain tentang pola-pola numerik yang ditemukan ada di dalam al-Qur’an.

Pola-pola numerik yang muncul, kemudian oleh para ulama disebut sebagai mu’jizat angka-angka (‘ijaz ‘adadi), umumnya masih dianggap pembuktian al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan yang diturunkan kepada manusia melalui Rasulullaah Muhammad s.a.w. Salah satu buku yang menjelaskan mengenai hal ini adalah “Min al-‘Ijaz al-Balaghiy wa al-‘Adadiy li al-Qur’an al-Karim” (Al-Qur’an dan Rahasia Angka-angka) buah karya Dr. Abu Zahra’ an-Najdi di tahun 1990, seorang dosen ilmu filsafat di Syria. Selain menguraikan sejarah penghitungan kata-kata di dalam al-Qur’an sejak masa Salaf disertai fakta-fakta baru yang belum diungkapkan oleh peneliti lain, Dr. Abu Zahra’ an-Najdi (an-Najdi, 2001) membuktikan adanya perhatian kaum Salaf terhadap fenomena i’jaz ‘adadi al-Qur’an selain sebagai bayan (penjelasan), nudhum (struktur) dan ma’ani (arti-arti kata).

Dr. Abu Zahra’ an-Najdi juga memberikan kritisi atas perhitungan Rashad Khalifa yang berani menghilangkan ayat 128 dan 129 QS. at-Taubah (9) karena tidak cocok dengan formulasinya, resume atas tulisan Abdul Razaq Naufal dan Dr. Ali Hilmi Musa, serta temuan-temuan yang Beliau dapatkan. Abdul Razaq Naufal menulis buku al-I’jaz al-‘Adadiy fi al-Qur’an al-Karim dengan beberapa tema yang menjelaskan keharmonisan dan kesesuaian yang terjadi di antara jumlah kata-kata al-Qur’an. Berikut adalah contoh hasil perhitungan yang Abdul Razaq Naufal temukan.
- Kata “iblis” dan “isti’adzah” disebutkan 11 kali.
- Kata “ma’shiyah” dan “syukr” beserta turunan katanya disebutkan 75 kali.
- Kata “al-dunya” dan “al-akhirah” disebutkan 115 kali.
- Kata “malaikat” dan “al-syayathin” disebutkan 88 kali.
- Kata “al-harr” (panas) dan “al-harb” (dingin) disebutkan 4 kali.
- Kata “yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebut 365 kali.
- Kata “yaum” (hari) dalam bentuk mutsana dan jama’ disebut 30 hari.
- Kata “syahr” (bulan) disebut 12 kali.

Dr. Ali Hilmi Musa adalah seorang Fisikawan di Univerisitas Kuwait yang meneliti akar kata bahasa dan jumlahnya yang dipublikasikan di dalam majalah yang diterbitkan di Kuwait yaitu Alam al-Fikr seri ke-12 tahun 1982, dengan judul: “Bantuan Alat-alat Hitung elektronis Dalam Mempelajari Kata-kata al-Qur’an al-Karim”. Beberapa hasil perhitungan komputernya adalah:
- Jumlah kata-kata dalam al-Qur’an adalah 51.900;
- Kebanyakan kata-kata dimulai dari huruf ء, jumlahnya 8.310 (16% kata-kata dalam al-Qur’an);
- Kata-kata yang dimulai dari huruf ء, ق, ك, ع, ر,dan ن jumlahnya 26.021 (50,14% kata-kata dalam al-Qur’an);

Dengan berbekal temuan Abdul Razak Naufal tentang jumlah kata “yaum” (hari) sama dengan 365 hari syamsiyah dalam setahun juga kata “syahr” (bulan) sama dengan 12 bulan dalam setahun, Dr. Abu Zahra’ an-Najdi memulai penelitiannya. Berikut beberapa hasil temuannya.
- Kata “sujud” yang dilakukan oleh makhluk berakal (manusia, malaikat dan jin/iblis) disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah sujud shalat lima waktu.
- Kata “shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah shalat wajib.
- Kata “aqim” atau “aqimu” yang diikuti dengan kata “shalat” disebut 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat wajib.
- Kata “faradha” berikut turunan katanya dengan pengertian faridah (kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan) disebut 17 kali, sama dengan jumlah rakaat shalat wajib.

Al-Qur’an dengan 6666 ayat adalah al-Qur’an PALSU!

Sunday, February 27th, 2011

Al-Qur’an dengan 6666 ayat adalah al-Qur’an PALSU!

by Andri Abdurrochman on Sunday, January 10, 2010 at 6:33am
Masih berkaitan dengan tulisan saya “Qur’an Madinah: Oleh-oleh Haji”, waktu masih sekolah dahulu (sekarang juga masih sering) kita sering mendengar penjelasan dari guru-guru atau ustadz bahwa al-Qur’an kita mempunyai jumlah 6666 ayat. Karena itu, angka 6666 tersebut sering disebut sebagai keunikan al-Qur’an. Benarkah demikian?

Sebelum memulai pembahasan ini, marilah kita susun dahulu huruf-huruf bahasa Arab (yang menjadi huruf penulisan al-Qur’an) seperti berikut:

alif = 1 — ha = 6 — za = 11 — tha = 16 — qaf = 21 — wau = 26 — alif-lam = 31
ba = 2 — kha = 7 — sin = 12 — dla = 17 — ka = 22 — Ha = 27 — ta (marbthah)=32
ta = 3 — dal = 8 — syin = 13 — ‘ain = 18 — lam = 23 — lam-alif = 28
tsa = 4 — dza = 9 — shad = 14 — ghain = 19 — mim = 24 — hamzah =29
jim = 5 — ra = 10 — dhad = 15 — fa = 20 — nun = 25 — ya = 30

Selanjutnya, kata al-Qur’an di dalam bahasa arab terdiri dari:
alif-lam = 31
qaf = 21
ra = 10
alif = 1
nun = 25
Jumlah = 31 + 21 + 10 + 1 + 25 = 88
Kalau menggunakan operasi penjumlahan, 8 + 8 = 16
kalau menggunakan operasi perkalian, 8 x 8 = 64, lalu penjumlahan 6 + 4 = 10
Selanjutnya, 16 + 10 diperoleh 26.

Selanjutnya 88 dan 26 di atas dijumlahkan: 88 + 26 = 114 –> JUMLAH SURAT DALAM AL-QUR’AN.
Dan ternyata Surat ke 88 (al-Ghaasyiyah) memiliki 26 ayat —> 114

Selanjutnya,
alif-lam = 31
qaf = 21 —> 31 + 21 = 52 —> 52 + 10 = 62
ra = 10 ————–> 10 – - – - ———-> 6236 —> JUMLAH AYAT DI AL-QUR’AN
alif = 1 —-> 1 + 25 = 26 —> 26 + 10 = 36
nun = 25

Akhirnya,
alif-lam = 31
qaf = 21 —> 31 + 21 = 52 —> 52 + 10 = 62 —> 6 x 2 = 12
ra = 10 ————–> 10 – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - —>12 + 18 = 30 —> JUMLAH JUZ
alif = 1 —-> 1 + 25 = 26 —> 26 + 10 = 36 —> 3 x 6 = 18
nun = 25

Jelaslah, berdasarkan huruf-huruf yang membentuk kata “al-Qur’an”, bahwa al-Qur’an yang benar adalah:
1. Terdiri dari 114 Surat
2. Terdiri dari 6236 Ayat
3. Terdiri dari 30 Juz
Jadi ternyata jumlah ayat di dalam al-Qur’an bukanlah 6666 ayat. Kalau kita menemukan al-Qur’an berjumlah 6666 ayat, berarti al-Qur’an itu PALSU!

Sekarang marilah kita periksa al-Qur’an di rumah kita, hitung jumlah ayat-ayat di dalamnya. Jangan-jangan selama ini kita membaca al-Qur’an palsu.

Wallaahu ‘alam.

Qur’an Madinah: Oleh-oleh Haji

Sunday, February 27th, 2011

Qur’an Madinah: Oleh-oleh Haji

by Andri Abdurrochman on Wednesday, December 30, 2009 at 9:50am
Bulan Dzulhijjah, sebagai bulan terakhir dalam kalender Hijriah dan bulan pelaksanaan ibadah Hajji telah berlalu. Saudara-saudara para jema’ah haji pun sudah banyak (hampir semua) yang kembali ke tanah air. Selain do’a dari mereka, jika yang berhaji adalah saudara/teman dekat, biasanya kita suka memesan oleh-oleh khas dari Mekkah atau Madinah. Sesuatu yang khas yang tidak ada di toko-toko oleh-oleh haji di Pasar Baru atau pun lainnya.

Salah satu oleh-oleh yang suka dipesan adalah al-Qur’an cetakan Madinah. Selain kitabnya yang indah dengan kualitas kertas yang bagus, yang pasti al-Qur’an cetakan Madinah ini jarang (tidak ada) di toko buku di kita. Apalagi kalau al-Qur’an cetakan Madinah itu adalah buah tangan dari pemerintah Arab Saudi yang selalu diberikan kepada setiap Jemaah Haji yang kembali ke tanah airnya masing-masing.

Tapi ternyata tidak itu saja keistimewaan (perbedaan) al-Qur’an cetakan Madinah dibandingkan al-Qur’an cetakan DEPAG RI, misalnya. Jumlah/nomor halaman kedua Qur’an tersebut ternyata tidak sama! Ini terjadi karena ternyata jumlah baris setiap halaman kedua Qur’an tersebut berbeda! Kemudian, awal beberapa juz pun berbeda!

Jadi bingung……….. koq format cetakannya tidak sama ya……….? yang benar/standard itu yang mana ya……? Atau……. jangan-jangan kedua-duanya tidak standard?

Wallahu ‘alam.

Copyright © 2014 Qur'anic Qulb Quotient. Search Engine Optimization by Star Nine. Distributed by Wordpress Themes