Posts Tagged ‘al-qur’an’

Pilih Membaca atau Mendengarkan al-Qur’an

Saturday, February 26th, 2011

Interaksi Dengan Al-Qur’an:

PILIH MEMBACA ATAU MENDENGARKAN AL-QUR’AN

Oleh: H.A. Abdurrochman, S.Si., M.T.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Amma ba’du.

Wa khairul hadiits, kitaabullaah, wa khairul hudaa, hudaa muhammad. Wa syarrul umuur muhdatsaatuhaa. Wa kullu bid’ati dhalalah. Wa kullu dhalalati fii naar.

Faa qalallahu fii kitabihil kariim, ‘audzubillahi minasy syaithaan nir rajiim …

وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون

Artinya: “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raf 7:204)

Hadirin Rahimakumullah,

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita Rahmat dan Nikmat yang tidak terkira dengan menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw untuk seluruh umat manusia di dunia ini. Karena itulah ketika kita memegang al-Qur’an maka kita (Muslimin) diperintahkan untuk membacanya agar mengetahui semua perintah dan petunjuk Allah di dalamnya. Untuk selanjutnya kita ikuti petunjuk itu dan kita laksanakan perintah Allah dengan sepenuhnya keta’atan.

QS. al-A’raf 7:204 di atas berdasarkan asbabunnuzul ayat tersebut berkaitan dengan bacaan shalat berjamaah pada saat Imam membacakan bacaannya dengan keras/dzahar. Berikut hadits-hadits shahih penjelasnya:

  1. Dari Ata’ bin Yasar r.a. katanya: “Sesungguhnya dia telah bertanya kepada Zaid bin Tsabit tentang masalah membaca bersama Imam. Zaid menjawab: “Tidak ada sedikit pun bacaan bersama imam”, bahkan Zaid menyakinkan bahwa dia pernah membaca di hadapan Rasulullah s.a.w. namum baginda tidak sujud”. (HR. Bukhari & Muslim)
  2. “Dari Abdullah bin Mughaffal ra. : Beliau (Rasulullah) ditanya: “Apakah setiap orang yang mendengar al-Qur’an dibaca, wajibkah ia mendengar dan memperhatikan?”. Beliau (Rasulullah) menjawab: “Tidak, karena ayat ini (Wa idza quri’al …….)[al-A’raf: 204] turun tentang qira’ah (bacaan) imam, bila imam membaca (al-Fatihah dan Surat) dengarkanlah dengan sungguh-sungguh perhatian dan diamlah”.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim)
  3. Dari Ibnu Mas’ud ra.: Beliau shalat dengan para shahabatnya, kemudian Ia mendengar orang-orang membaca di belakangnya. Ketika selesai, Ia berkata: “Adapun sekarang bagi kalian, pahamilah. Adapun sekarang bagi kalian, gunakanlah pikiran. (Wa idza quri’al ……) sebagaimana Allah memerintahkan kalian itu”. (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim)

Mengenai perintah “membaca” al-Qur’an, Allah menggunakan berbagai kata, diantaranya:

  1. 1. Qara’a (قرٲ), yaitu membaca tulisan al-Qur’an (untuk Muslim Awam yang hanya dapat membaca tanpa mengerti artinya – versi Farid Esack, Doktor Tafsir al-Qur’an asal Afrika Selatan, dalam buku berjudul The Qur’an: a Short Introduction (2002) yang memetakan posisi umat manusia terhadap al-Qur’an).

اقرأ باسم ربك الذي خلق

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (QS. al-‘Alaq 96:1)

  1. 2. Tadarus (تدرس), yaitu membaca untuk dipelajari/dibahas (untuk Muslim Terpelajar dan ahli Tafsir – scholarly lover & critical lover)

أم لكم كتاب فيه تدرسون

“Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya?” (QS. al-Qalam 68:37)

  1. 3. ‘Utlu (أتل), yaitu membacakan/menyampaikan/menjelaskan ke-pada orang lain (ustadz/pendakwah/da’i/mubaligh)

وأن أتلو القرآن فمن اهتدى فإنما يهتدي لنفسه ومن ضل فقل إنما أنا من المنذرين

“Dan supaya aku membacakan Al Qur’an (kepada manusia). Maka barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barang siapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan”.” (QS. an-Naml 27:92)

Tapi, bagaimana jika kita belum/tidak dapat membacanya? Maka yang harus kita lakukan adalah mendengarkan al-Qur’an yang dibacakan oleh orang lain, dengan tetap berusaha untuk dapat membacanya. Sejarah telah membuktikan bahwa para sahabat Nabi yang umumnya “ummi” tidak dapat membaca dapat menjalankan perintah dan petunjuk Allah dengan cukup mendengarkan al-Qur’an saja. Bahkan banyak riwayat yang menyebutkan mereka masuk Islam hanya karena mendengar bacaan al-Qur’an, salah satunya adalah ‘Umar bin Khatab.

Begitu kuatnya pengaruh mendengarkan al-Qur’an ini – yang pada masa Nabi dibacakan setiap pagi dan petang – disadari oleh kaum kafir Quraisy sehingga mereka pun berusaha untuk mencegah orang-orang untuk mendengarkan al-Qur’an à QS. al-Furqaan 25: 4-5 dan QS. Fushshilat 41:26

Hadirin Rahimakumullaah,

Berikut beberapa manfaat lain mendengarkan al-Qur’an yang dibuktikan melalui penelitian:

  1. Sebagai terapi kesehatan lahiriah dan batiniah.
  2. Meningkatkan produksi pangan (gandum).
  3. Mengaktifkan dan meningkatkan Kecerdasan Qalbu.

Itulah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Wallaahu ‘alam.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Rabbi jidni ilma, warzukni fahma, wa ‘amalan shalihan,

Yaa muqalibal qulub, tsabit qalbii ‘ala diini    3X

Rabbana aatina fi dunya hasanah, wa fil ‘akhirati hasnah, wa qinaa adzabannaar, wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Tetap Sehat dengan Mendengarkan al-Qur’an

Friday, February 25th, 2011

Perhatian Islam Terhadap Kesehatan:

TETAP SEHAT DENGAN MENDENGARKAN AL-QUR’AN

Oleh: H.A. Abdurrochman, S.Si., M.T.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Amma ba’du.

Wa khairul hadiits, kitaabullaah, wa khairul hudaa, hudaa muhammad. Wa syarrul umuur muhdatsaatuhaa. Wa kullu bid’ati dhalalah. Wa kullu dhalalati fii naar.

Faa qalallahu fii kitabihil kariim, ‘audzubillaahi mina sysyaithaani rrajim..

سنريهم آياتنا في الآفاق وفي أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق أولم يكف بربك أنه على كل شيء شهيد

Artinya:  “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. al-Fushilat 41:53)

Hadirin Rahimakumullah,

Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Qur’an – sebagai petunjuk serta rahmat bagi seluruh alam, juga penyembuh – kepada Nabi Muhammad s.a.w. untuk seluruh umat manusia di dunia ini. Karena itulah ketika kita tidak memegang atau melaksanakan al-Qur’an dengan benar, maka penyakit-penyakit pun akan bersarang dalam badan kita.

Mengenai tanda-tanda (‘ayaatun), Allah menyebutkannya di dalam al-Qur’an (baik ekplisit maupun implisit) lebih dari 100 kali. Hal ini dapat dijadikan penjelasan tidak langsung bahwa kita sebagai manusia diwajibkan memperhatikan segala sesuatu hal. Yang paling terbaru, ketika para hewan-hewan hutan terlihat sudah turun gunung (Merapi) kemudian juga alat-alat pemantau gunung berapi menunjukkan sebentar lagi gunung itu akan meletus, maka cukuplah itu sebagai tanda-tanda yang wajib diperhatikan oleh semua orang kalau Merapi akan meletus. Dan wajiblah semua orang mencari tempat yang aman. Karena kalau tidak mengungsi berarti sama dengan men-dlalim-i diri sendiri yang hukumnya jatuh menjadi dosa.

قل انظروا ماذا في السماوات والأرض وما تغني الآيات والنذر عن قوم لا يؤمنون

Artinya: “Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus 10:101)

Hadirin Rahimakumullaah,

Seperti yang telah disebutkan di dalam QS al-Fushilat 41:53 pada awal khutbah tadi, ternyata tanda-tanda yang telah Allah tinggalkan kepada kita untuk diperhatikan ada di alam, pada diri manusia dan pada al-Qur’an. Apa yang terjadi sekarang ini adalah tanda-tanda di alam. Tujuannya adalah agar manusia menyadari betapa besarnya kekuasaan Allah dan lalu menjadikannya sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah.

Mengenai tanda-tanda di dalam al-Qur’an, sementara ini yang terpopuler adalah tanda-tanda atau ciri-ciri al-Qur’an secara bahasa, keindahan dan isi (tekstual).

Tanda-tanda lainnya adalah ada di dalam suara dan visual AQ.

Kedudukan al-Qur’an sebagai penyembuh dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, al-Qur’an sebagai penyembuh secara tidak langsung (resep obat). Dan kedua, al-Qur’an sebagai penyembuh secara langsung (obat).

  1. 1. Al-Qur’an sebagai resep obat

Berkaitan dengan kedudukan al-Qur’an sebagai resep obat dapat dilihat dalam QS. an-Nahl 16:69,

ثم كلي من كل الثمرات فاسلكي سبل ربك ذللا يخرج من بطونها شراب مختلف ألوانه فيه شفاء للناس إن في ذلك لآية لقوم يتفكرون

Artinya: “kemudian makanlah dari tiap-tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. an-Nahl 16:69)

Dalam ayat di atas secara eksplisit Allah menyebutkan madu sebagai obat yang menyembuhkan bagi manusia. Karena para lebah memakan bermacam-macam buah-buahan, berarti buah-buahan pun sebagai obat bagi manusia. Sebab tidak pernah ada sekawanan lebah yang sakit atau pembawa penyakit apapun.

Ternyata tulisan resep obat di dalam al-Qur’an tidak saja secara eksplisit. Hal ini ditemukan pada awal tahun 1990an oleh seorang ilmuwan, Prof.Dr. Abdul Basith Muhammad Sayyid, staf peneliti di Lembaga Riset Nasional Mesir yang telah mendapatkan hak paten dari Lembaga Hak Cipta Eropa pada tahun 1991 dan Amerika pada 1993 atas temuan obat tetes mata untuk menyembuhkan penyakit katarak. Dan temuannya ini terinspirasi oleh ayat-ayat di dalam al-Qur’an surah Yusuf yang mengisahkan keluarga nabi Ya’qub a.s. dan nabi Yusuf a.s. Profesor ini mengatakan bahwa kedua mata nabi Ya’qub a.s. yang putih, seperti tersebut dalam QS. Yusuf 12:84:

وتولى عنهم وقال يا أسفى على يوسف وابيضت عيناه من الحزن فهو كظيم

artinya : “Dan Yakub berpaling dari mereka seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya.” (QS. Yusuf 12:84)

sekarang ini dikenal sebagai penyakit katarak.

Resep utama obat katarak ini didapat dari QS. Yusuf 12: 93 – 96.

اذهبوا بقميصي هذا فألقوه على وجه أبي يأت بصيرا وأتوني بأهلكم أجمعين

ولما فصلت العير قال أبوهم إني لأجد ريح يوسف لولا أن تفندون

قالوا تالله إنك لفي ضلالك القديم

فلما أن جاء البشير ألقاه على وجهه فارتد بصيرا قال ألم أقل لكم إني أعلم من الله ما لا تعلمون

artinya : “Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku”. Tatkala kafilah itu telah keluar berkata ayah mereka: “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal”. Keluarganya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu”. Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Yakub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Yakub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (QS. Yusuf 12:93-96)

Katanya: “Setelah melalui proses pemikiran panjang, kami tidak menemukan unsur obat apa-apa selain hanya keringat. Oleh karena itu, penelitian ini kemudian saya arahkan untuk meneliti unsur-unsur keringat manusia”. Dan dari keringat itulah Profesor ini dapat menemukan unsur bolina yang dapat diproses-hadirkan secara kimiawi dan dapat menyembuhkan penyakit katarak. Ia pun berkata: “Oleh karena itu, kita harus kembali pada al-Qur’an, sebab hanya dengannyalah kebahagiaan dan kemajuan kita, sebagai umat Islam, bakal kita raih, dan kita pun akan kembali berperan dalam membimbing dan mengarahkan umat manusia.”

  1. 2. Al-Qur’an sebagai obat

Hadirin Rahimakumullah, ternyata al-Qur’an dapat dijadikan obat secara langsung seperti tersebut secara langsung dalam QS. Yunus 10:57. Hal ini pertama kali dipublikasikan oleh Dr. Al-Qadhi. Di Klinik Besar Florida-Amerika Serikat, dia berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an, dapat menurunkan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa dan menangkal berbagai macam penyakit hingga 97%. Hasil penelitian ini disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984.

Kesimpulan hasil penelitian tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston-Amerika Serikat. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan, 3 pria dan 2 wanita, yang sama sekali tidak mengerti bahasa Arab. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan al-Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an.

Selain itu ada sebuah organisasi di Pakistan (www.easysolution4life.com) dipimpin oleh Muhammad Irfan Azam yang giat mengkampanyekan mendengarkan al-Qur’an (khususnya QS. ar-Rahmaan) sebagai terapi kesehatan yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit baik penyakit hati (ruhani) maupun penyakit jasmani. Kampanye mereka dilakukan ke berbagai rumah sakit dan klinik kesehatan. Juga menyediakan CD rekaman murattal QS. ar-Rahmaan secara gratis untuk dibagikan kepada siapapun yang memerlukan.

Penjelasan awal tentang bagaimana mekanisme dasar mendengarkan al-Qur’an dapat dijadikan sebagai obat berbagai penyakit diteliti di Jurusan Fisika FMIPA UNPAD sejak tahun 2006. Dan telah dipublikasikan melalui berbagai seminar nasional/regional, bahkan di dalam jurnal ilmiah nasional terakreditasi.

Hadirin Rahimakumullah,

Semoga paparan singkat ini memberikan pencerahan baru yang dapat menambah keimanan kita kepada Allah SWT.

Wallaahu ‘alam.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Rabbi jidni ilma, warzukni fahma, wa ‘amalan shalihan,

Yaa muqalibal qulub, tsabit qalbii ‘ala diini   3X

Rabbana aatina fi dunya hasanah, wa fil ‘akhirati hasnah, wa qinaa adzabannaar, wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

حم(1)
تنزيل من الرحمن الرحيم(2)
كتاب فصلت آياته قرآنا عربيا لقوم يعلمون(3)
بشيرا ونذيرا فأعرض أكثرهم فهم لا يسمعون(4)
وقالوا قلوبنا في أكنة مما تدعونا إليه وفي آذاننا وقر ومن بيننا وبينك حجاب فاعمل إننا عاملون(5)
قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فاستقيموا إليه واستغفروه وويل للمشركين(6)
الذين لا يؤتون الزكاة وهم بالآخرة هم كافرون(7)
إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات لهم أجر غير ممنون(8)
قل أئنكم لتكفرون بالذي خلق الأرض في يومين وتجعلون له أندادا ذلك رب العالمين(9)
وجعل فيها رواسي من فوقها وبارك فيها وقدر فيها أقواتها في أربعة أيام سواء للسائلين(10)
ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها قالتا أتينا طائعين(11)
فقضاهن سبع سماوات في يومين وأوحى في كل سماء أمرها وزينا السماء الدنيا بمصابيح وحفظا ذلك تقدير العزيز العليم(12)
فإن أعرضوا فقل أنذرتكم صاعقة مثل صاعقة عاد وثمود(13)
إذ جاءتهم الرسل من بين أيديهم ومن خلفهم ألا تعبدوا إلا الله قالوا لو شاء ربنا لأنزل ملائكة فإنا بما أرسلتم به كافرون(14)
فأما عاد فاستكبروا في الأرض بغير الحق وقالوا من أشد منا قوة أولم يروا أن الله الذي خلقهم هو أشد منهم قوة وكانوا بآياتنا يجحدون(15)
فأرسلنا عليهم ريحا صرصرا في أيام نحسات لنذيقهم عذاب الخزي في الحياة الدنيا ولعذاب الآخرة أخزى وهم لا ينصرون(16)
وأما ثمود فهديناهم فاستحبوا العمى على الهدى فأخذتهم صاعقة العذاب الهون بما كانوا يكسبون(17)
ونجينا الذين آمنوا وكانوا يتقون(18)
ويوم يحشر أعداء الله إلى النار فهم يوزعون(19)
حتى إذا ما جاؤوها شهد عليهم سمعهم وأبصارهم وجلودهم بما كانوا يعملون(20)
وقالوا لجلودهم لم شهدتم علينا قالوا أنطقنا الله الذي أنطق كل شيء وهو خلقكم أول مرة وإليه ترجعون(21)
وما كنتم تستترون أن يشهد عليكم سمعكم ولا أبصاركم ولا جلودكم ولكن ظننتم أن الله لا يعلم كثيرا مما تعملون(22)
وذلكم ظنكم الذي ظننتم بربكم أرداكم فأصبحتم من الخاسرين(23)
فإن يصبروا فالنار مثوى لهم وإن يستعتبوا فما هم من المعتبين(24)
وقيضنا لهم قرناء فزينوا لهم ما بين أيديهم وما خلفهم وحق عليهم القول في أمم قد خلت من قبلهم من الجن والإنس إنهم كانوا خاسرين(25)
وقال الذين كفروا لا تسمعوا لهذا القرآن والغوا فيه لعلكم تغلبون(26)
فلنذيقن الذين كفروا عذابا شديدا ولنجزينهم أسوأ الذي كانوا يعملون(27)
ذلك جزاء أعداء الله النار لهم فيها دار الخلد جزاء بما كانوا بآياتنا يجحدون(28)
وقال الذين كفروا ربنا أرنا الذين أضلانا من الجن والإنس نجعلهما تحت أقدامنا ليكونا من الأسفلين(29)
إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون(30)
نحن أولياؤكم في الحياة الدنيا وفي الآخرة ولكم فيها ما تشتهي أنفسكم ولكم فيها ما تدعون(31)
نزلا من غفور رحيم(32)
ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين(33)
ولا تستوي الحسنة ولا السيئة ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم(34)
وما يلقاها إلا الذين صبروا وما يلقاها إلا ذو حظ عظيم(35)
وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه هو السميع العليم(36)
ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر لا تسجدوا للشمس ولا للقمر واسجدوا لله الذي خلقهن إن كنتم إياه تعبدون(37)
فإن استكبروا فالذين عند ربك يسبحون له بالليل والنهار وهم لا يسأمون(38)
ومن آياته أنك ترى الأرض خاشعة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت إن الذي أحياها لمحيي الموتى إنه على كل شيء قدير(39)
إن الذين يلحدون في آياتنا لا يخفون علينا أفمن يلقى في النار خير أم من يأتي آمنا يوم القيامة اعملوا ما شئتم إنه بما تعملون بصير(40)
إن الذين كفروا بالذكر لما جاءهم وإنه لكتاب عزيز(41)
لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل من حكيم حميد(42)
ما يقال لك إلا ما قد قيل للرسل من قبلك إن ربك لذو مغفرة وذو عقاب أليم(43)
ولو جعلناه قرآنا أعجميا لقالوا لولا فصلت آياته أأعجمي وعربي قل هو للذين آمنوا هدى وشفاء والذين لا يؤمنون في آذانهم وقر وهو عليهم عمى أولئك ينادون من مكان بعيد(44)
ولقد آتينا موسى الكتاب فاختلف فيه ولولا كلمة سبقت من ربك لقضي بينهم وإنهم لفي شك منه مريب(45)
من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها وما ربك بظلام للعبيد(46)
إليه يرد علم الساعة وما تخرج من ثمرات من أكمامها وما تحمل من أنثى ولا تضع إلا بعلمه ويوم يناديهم أين شركائي قالوا آذناك ما منا من شهيد(47)
وضل عنهم ما كانوا يدعون من قبل وظنوا ما لهم من محيص(48)
لا يسأم الإنسان من دعاء الخير وإن مسه الشر فيؤوس قنوط(49)
ولئن أذقناه رحمة منا من بعد ضراء مسته ليقولن هذا لي وما أظن الساعة قائمة ولئن رجعت إلى ربي إن لي عنده للحسنى فلننبئن الذين كفروا بما عملوا ولنذيقنهم من عذاب غليظ(50)
وإذا أنعمنا على الإنسان أعرض ونأى بجانبه وإذا مسه الشر فذو دعاء عريض(51)
قل أرأيتم إن كان من عند الله ثم كفرتم به من أضل ممن هو في شقاق بعيد(52)
سنريهم آياتنا في الآفاق وفي أنفسهم حتى يتبين لهم أنه الحق أولم يكف بربك أنه على كل شيء شهيد(53)
ألا إنهم في مرية من لقاء ربهم ألا إنه بكل شيء محيط(54)

Umar bin Khattab masuk Islam

Wednesday, February 23rd, 2011

Demikian besarnya pengaruh mendengarkan al-Qur’an, sehingga Umar bin Khattab pun dilunakkan hatinya oleh Allah melalui suara bacaan (murattal) al-Qur’an.

Umar bin Khattab masuk Islam

(http://majlisdzikrullahpekojan.org)

Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Nabi. Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan syair), lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Nabi. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesuugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Iparnya menjawab, “wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?”  Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, ‘Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.’ Maka adik perempuannya berkata,” Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam.dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, ‘Umar (datang)!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Nabi menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya. “… Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain: “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.”

KAMPANYE MENDENGARKAN AL-QUR’AN

Monday, February 21st, 2011

KAMPANYE MENDENGARKAN AL-QUR’AN

Oleh: H.A. Abdurrochman, S.Si., M.T.

a.abdurrochman@unpad.ac.id

(Unduh tulisan lengkap disini)

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Amma ba’du.

Wa khairul hadiits, kitaabullaah, wa khairul hudaa, hudaa muhammad. Wa syarrul umuur muhdatsaatuhaa. Wa kullu bid’ati dhalalah. Wa kullu dhalalati fii naar.

Faa qalallahu fii kitabihil kariim, ‘audzubillahi minasy syaithaan nir rajiim …

Artinya: “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raf 7:204)

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita Rahmat dan Nikmat yang tidak terkira dengan menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw untuk seluruh umat manusia di dunia ini. Karena itulah ketika kita memegang al-Qur’an maka kita (Muslimin) diperintahkan untuk membacanya agar mengetahui semua perintah dan petunjuk Allah di dalamnya. Untuk selanjutnya kita ikuti petunjuk itu dan kita laksanakan perintah Allah dengan sepenuhnya keta’atan.

Tetapi ternyata melaksanakan semua perintah di dalam al-Qur’an bukanlah perkara sederhana. Banyak gangguan eksternal yang menerpa, yang menghadirkan tabir di depan mata kita yang terbuka lebar. Dan itu tiada lain adalah makar kaum kafirin. Dan makar mereka itu sungguh sangatlah hebat dan menyesatkan, jika kita tidak berhati-hati. Sebagai contoh adalah dalam ayat 204 surat al-A’raf di atas.

QS. al-A’raf 7:204 di atas berdasarkan asbabunnuzul ayat tersebut berkaitan dengan bacaan shalat berjamaah pada saat Imam membacakan bacaannya dengan keras/dzahar. Berikut hadits-hadits shahih penjelasnya:

  1. Dari Ata’ bin Yasar r.a. katanya: “Sesungguhnya dia telah bertanya kepada Zaid bin Tsabit tentang masalah membaca bersama Imam. Zaid menjawab: “Tidak ada sedikit pun bacaan bersama imam”, …. ”. (HR. Bukhari & Muslim)
  2. “Dari Abdullah bin Mughaffal ra. : Beliau (Rasulullah) ditanya: “Apakah setiap orang yang mendengar al-Qur’an dibaca, wajibkah ia mendengar dan memperhatikan?”. Beliau (Rasulullah) menjawab: “Tidak, karena ayat ini (Wa idza quri’al …….)[al-A’raf: 204] turun tentang qira’ah (bacaan) imam, bila imam membaca (al-Fatihah dan Surat) dengarkanlah dengan sungguh-sungguh perhatian dan diamlah”.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim)
  3. Dari Ibnu Mas’ud ra.: Beliau shalat dengan para shahabatnya, kemudian Ia mendengar orang-orang membaca di belakangnya. Ketika selesai, Ia berkata: “Adapun sekarang bagi kalian, pahamilah. Adapun sekarang bagi kalian, gunakanlah pikiran. (Wa idza quri’al ……) sebagaimana Allah memerintahkan kalian itu”. (HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim)

Dengan makar yang hebat dari kaum kafir, ke-tiga hadits shahih di atas seolah-olah tidak pernah ada, sehingga masih saja banyak diantara kita yang masih saja tidak diam mendengarkan pada saat Imam shalat membacakan al-fatihah dan surah dengan dzahar.

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah

Ternyata perintah atau informasi tentang mendengarkan bacaan al-Qur’an tidak saja pada ayat QS. al-A’raf 204 saja. Masih banyak yang lainnya. Tapi, sekali lagi, karena makar kaum kafirinlah perintah mendengarkan al-Qur’an ini tidak begitu popular di kalangan kaum Muslimin. Kalah dengan perintah membaca al-Quran. Sampai-sampai bermunculan metoda cepat belajar baca al-Qur’an. Di dalam QS. al-Fushilat 26 Allah telah mengabarkan tentang maker kaum kafirin ini.

Artinya: “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (QS. Fushshilat 41:26)

Padahal, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari mendengarkan al-Qur’an (di QS. al-A’raf 204 di atas rahmat). Bahkan banyak riwayat yang mengabarkan banyaknya para shahabat Nabi yang masuk Islam karena mendengarkan bacaan al-Qur’an. Salah satunya adalah Umar bin Khatab yang mendengarkan awal surah Thahaa dari dalam rumah adik perempuannya pada saat Dia akan memastikan apakah benar adiknya tersebut telah masuk Islam. Bahkan Rasulullah pun pernah mengkhususkan diri untuk mendengarkan bacaan al-Qur’an.

Imam Bukhari dalam kitab Tafsir Surah an-Nisa’ dan Imam Muslim di dalam kitab Keutamaan-keutamaan al-Qur’an menuliskan sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud r.a.:

“Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata: “Rasulullah s.a.w. berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an untukku!”. Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku harus membacakan buat Engkau, sedangkan al-Qur’an diturunkan kepadamu?”. Beliau berkata, “Sungguh, aku ingin mendengar bacaan itu dari orang lain.”. Maka aku bacakan surah an-Nisa’ hingga aku sampai pada bacaan ayat (yang artinya), “Maka bagaimanakah, apabila Kami mendatangkan seseorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka itu” (QS. an-Nisa’ 4:41). Lalu beliau berkata, “Cukuplah sampai di situ”. Kemudian aku menoleh ke arah beliau, mata beliau tengah bercucuran air mata.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah s.a.w. sangat menikmati bacaan Ibnu Mas’ud r.a. sehingga ia sering kali diminta untuk membacakan al-Qur’an bagi beliau. Dan apa yang dilakukan oleh Nabi ini benar-benar sejalan dengan QS. al-Furqaan 4-5.

Artinya: “Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kedzaliman dan dusta yang besar.

“Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS. al-Furqaan 25:4-5)

BARAKALAAHU LII WA LAKUM.

Alhamdulillahi ladzi hadaa naalihadzaa, wa maa kunna linahtadiya lau laa anhadzaanaallaah. Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyahadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

Sidang Jum’ah rahimakumullaah.

Mendengarkan bacaan al-Qur’an ternyata memiliki banyak manfaat bagi kita sebagai manusia, selain tentu saja karena melaksanakan perintah Allah. Berdasarkan hasil penelitian-penelitian yang dilaksakan di Jurusan Fisika FMIPA UNPAD dari mulai 2006 – 2009, ternyata mendengarkan al-Qur’an memiliki manfaat-manfaat sebagai berikut:

  1. Meredakan stress dan meningkatkan ketahanan terhadap stress
  2. Meningkatkan relaksasi, ketenangan dan kenyamanan
  3. Membantu mengatasi insomnia (penyakit susah tidur)
  4. Meningkatkan imunitas (system kekebalan tubuh)
  5. Meningkatkan kecerdasan Qalbu

Bahkan di Pakistan, mendengarkan al-Qur’an telah dijadikan salah satu terapi pengobatan utk berbagai penyakit. Karena itulah, marilah mulai sekarang kita mulai mendengarkan al-Qur’an setiap pagi dan petang ( QS. al-Furqaan 25:5). Dengarkanlah dan perhatikanlah dengan tenang agar kita mendapatkan rahmat yang dibawa oleh lantunan suara bacaan al-Qur’an tersebut.

Hadirin Rahimakumullah,

Semoga paparan singkat ini memberikan pencerahan baru yang dapat menambah keimanan dan amal shaleh kita kepada Allah SWT.

Wallaahu ‘alam.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ

Rabbi jidni ilma, warzukni fahma, wa ‘amalan shalihan,

Yaa muqalibal qulub, tsabit qalbii ‘ala diini 3X

Rabbana aatina fi dunya hasanah, wa fil ‘akhirati hasnah, wa qinaa adzabannaar, wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Lambang Hari Kasih Sayang Ada di dalam Al-Qur’an

Monday, February 21st, 2011

Lambang Hari Kasih Sayang Ada di dalam Al-Qur’an

(Unduh tulisan lengkap disini)

Setiap tanggal 14 Pebruari, banyak umat manusia ikut merayakan hari kasih sayang yang biasa disebut juga sebagai Valentine’s Day. Kaum remaja sudah mempersiapkan diri untuk merayakan hari ini. Ada yang membuat pesta, ada menyediakan puisi untuk sang pujaan hati. Pokoknya ada banyak macam ekspresi cinta gaya muda yang sudah dirancang untuk menyambut perayaan hari kasih sayang ini. Sejarah perayaan Hari Kasih sayang dimulai di Inggris sejak abad ke-14. Di sana muda-mudi yang sedang jatih cinta pada 14 Februari memberi perhatian khusus pada orang yang mereka cintai. Mereka mengirim bunga, kado, sajak (puisi), atau salam dalam kata-kata yang indah. Para imigram Inggris di benua Amerika juga membawa tradisi ini ke sana dan merayakannya secara khusus. Di Belanda tradisi Hari Cinta Kasih baru mulai dipraktekkan pada tahun 1980-an. Mulanya orang saling berkirim kartu ucapan kasih pada 14 Februari. Tetapi lama kelamaan ia berkembang menjadi pesta di mana orang muda berkumpul untuk saling membagi kado satu sama lain yang dihiasi dengan simbol bergambar hati dengan warna merah atau merah muda.

Berkaitan dengan symbol atau gambar hati yang sering dikaitkan dengan hari kasih saying, mungkin pernah diantara kita bertanya-tanya, “Mengapa hati selalu identik dengan cinta atau kasih sayang ?”. Penjelasan pragmatis yang paling sederhana adalah: “Karena kita selalu merasakan hati ini berdebar-debar jikalau bertemu dengan orang yang kita cintai”. Tetapi ternyata rasa di hati itu ternyata tidak saja berkaitan dengan cinta atau kasih sayang semata. Ketika merasakan sedih atau pun kecewa, orang sering mengatakan: “Sakit hati ini, seperti disayat-sayat sembilu”. Demikian pula jika sedang gembira, tangan kita secara reflex kita letakkan di dada (hati). Singkat kata, hati memang selalu diidentikan dengan perasaan kita sebagai manusia.

Tapi, pernah tahukah Anda bila lambang hati ini pun telah ada di dalam al-Qur’an sejak diturunkan 15 abad yang lalu? Bahkan lambang hati ini terdapat di setiap juz al-Qur’an. Apakah makna yang terkandung di dalam fenomena ini?

Sebenarnya tidak ada maksud khusus mencari lambang hati yang dijadikan lambang hari kasih sayang di dalam al-Qur’an. Tetapi semuanya didasari oleh sebuah pemikiran sederhana tentang penempatan wahyu-wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang ditempatkan sebagai ayat-ayat penyusun surah-surah al-Qur’an. Misalkan, wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad dijadikan 5 ayat pertama surah al-‘Alaq yang merupakan surah ke 96 di dalam al-Qur’an. Memang, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang disusun berdasarkan waktu turunnya wahyu, maka al-Qur’an disusun dengan format yang sama sekali berbeda. Tidak ada penjelasan khusus dari Nabi Muhammad tentang alasan penempatan suatu wahyu sebagai bagian dari suatu surat dan pada urutan ayat tertentu.

Titik terang penjelasan itu mulai dibuka dengan munculnya ciri-ciri lain dalam al-Qur’an, yang kemudian dikenal sebagai ‘ijaz adadi atau mukjizat angka/bilangan, yang pertama kali dipublikasikan oleh Rasyad Khalifa pada 24 Januari 1973 di sebuah majalah terbitan Mesir, Akher Sa’a. Publikasi ini mengawali publikasi-publikasi lain tentang pola-pola numerik yang ditemukan ada di dalam al-Qur’an.

Pola-pola numerik yang muncul, kemudian oleh para ulama disebut sebagai mu’jizat angka-angka (‘ijaz ‘adadi), umumnya masih dianggap pembuktian al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan yang diturunkan kepada manusia melalui Rasulullaah Muhammad s.a.w. Salah satu buku yang menjelaskan mengenai hal ini adalah “Min al-‘Ijaz al-Balaghiy wa al-‘Adadiy li al-Qur’an al-Karim” (Al-Qur’an dan Rahasia Angka-angka) buah karya Dr. Abu Zahra’ an-Najdi di tahun 1990, seorang dosen ilmu filsafat di Syria. Selain menguraikan sejarah penghitungan kata-kata di dalam al-Qur’an sejak masa Salaf disertai fakta-fakta baru yang belum diungkapkan oleh peneliti lain, Dr. Abu Zahra’ an-Najdi (an-Najdi, 2001) membuktikan adanya perhatian kaum Salaf terhadap fenomena i’jaz ‘adadi al-Qur’an selain sebagai bayan (penjelasan), nudhum (struktur) dan ma’ani (arti-arti kata).

Apabila pola-pola numeric tersebut diplot dalam sebuah system koordinat, ternyata muncullah citra yang merepresentasikan pola numeric tersebut. Contoh yang paling mudah adalah melihat pola numeric setiap juz di dalam al-Qur’an. Misalnya, juz 1 terdiri dari Surat al-Fatihah (nomor surat 1; ayat 1 -7) dan Surat al-Baqarah (nomor surat 2; ayat 1 – 141). Apabila setiap pasangan nomor surat (NS) dan nomor ayat (NA) dimasukkan dalam sebuah tabel maka akan diperoleh :

NS NA
1 1
1 2
1 3
1 4
1 5
1 6
1 7
2 1
2 2
2 3
2 140
2 141

Selanjutnya, dengan memetakan NS dan NA menggunakan fasilitas pembuat grafik yang umum ada di setiap program “spreadsheet” (Microsoft Excel ataupun OpenOffice Calc) akan diperoleh Gambar 1.

Gambar 1.

Teknik pemetaan ini disebutkan di dalam QS. al-Hadiid 57:12.

artinya: “Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya”. Itulah keberuntungan yang banyak.” (QS. 57:12)

Dalam kacamata Biologi, “laki-laki” disimbolkan sebagai “x” dan “perempuan” disimbolkan sebagai “y”. Maka diperolehlah sebuah koordinat kartesian (x-y) 2-D. “Cahaya” adalah titik-titik perpotongan “di hadapan” sumbu x dan “di sebelah kanan” sumbu y. “Surga” adalah visual/kurva/grafik yang diperoleh dari “mengalir”-kan atau menghubungkan titik-titik koordinat.

Kemudian, dengan mengikuti pola yang tersaji di dalam QS. al-A’raaf 7:54, Ibrahim 14:33, an-Nahl 16:12, al-Anbiyaa’ 21:33, Yaasin 36:40 dan Fushshilat 41:37 maka tabel pertama di atas diberikan cermin di bawahnya. Salah satu dari ayat-ayat di atas berbunyi:

artinya: “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya). (QS. 16:12)

Di dalam ayat tersebut disebutkan “… malam dan siang, matahari dan bulan …” dan bukan “malam dan siang, bulan dan matahari” sebagaimana “semestinya” begitu. Karena yang kita ketahui “malam ada bulan” dan “siang ada matahari”, sedangkan di dalam ayat-ayat urutan pernyataan kedua selalu “pencerminan” dari urutan pernyataan pertama. Karena itulah table pertama di atas ditambahkan menjadi:

NS NA
1 1
1 2
1 3
1 4
1 5
1 6
1 7
2 1
2 2
2 3
2 140
2 141
2 141
2 140
2 2
2 1
1 7
1 6
1 5
1 4
1 3
1 2
1 1

Karena terjadi perubahan table, maka hasil pemetaannya pun berubak menjadi Gambar 2. Gambar sebuah “hati”. LAMBANG KASIH SAYANG.

Gambar 2.

Dengan cara yang sama, kita pun akan mendapatkan gambar-gambar hati yang lain dari juz yang lain. Apakah ini suatu kebetulan? Ataukah sebuah metodologi baru dalam memahami al-Qur’an? Dan satu hal yang pasti, secara syar’i agama Islam tidak mendukung perayaan Hari Kasih Sayang.

Wallahu ‘alam.

Copyright © 2014 Qur'anic Qulb Quotient. Search Engine Optimization by Star Nine. Distributed by Wordpress Themes